Tidur bareng anak…

Pesan ibuku…. “jangan sampai telat misahin anak tidur (dari orangtuanya)”. Setuju?…Yup, hal ini sangat tertanam dan menjadi agendaku sejak aku belum berkeluarga.Image

Tinggal merantau di negri ‘bule’, orangtuaku menerapkan metode parenting yang saat itu dianggap paling bagus, termasuk menerapkan tidur terpisah ini. Aku sendiri tidak ingat kapan tepatnya aku pisah kamar dengan orangtuaku, tapi aku masih sekamar dengan abangku. Kira-kira aku masuk TK, dan abangku minta kamar sendiri untuknya, aku pun mulai tidur di kamar sendiri. Intinya, tidur sendiri itu wajar banget untukku, apalagi aku anak perempuan satu-satunya.

Aku pisah kamar dengan anakku? hmmm…..Waktu anakku bayi, dan aku kerja kantoran, ini sudah masuk agendaku. Hanya menunggu anakku cukup besar untuk pindah ke kamar yang bersebelahan.Kemudian suamiku mendapat tugas belajar di luar negri. Aku tidak lagi kerja kantoran, anakku tidak lagi diurus oleh suster. Hampir dua tahun kami tidur bertiga, walaupun kami punya dua kamar. Selain takut anak jatuh dari tempat tidur, adalah lebih mudah untuk urusan susu tengah malam.

Setelah anakku makin besar, dan kami mulai menyiapkan mental untuk memisahkannya tidur di kamar terpisah. Tapi nasib berkata lain. Pemilik flat mau menjualnya, dan kami harus pindah. Akhirnya kami dengan uang beasiswa yang terbatas, pindah ke flat lain dan hanya mampu menyewa flat satu kamar. Akibatnya, pisah kamar tidak jadi deh.

Tiga tahun aku bersama anakku dari bangun tidur sampai bangun tidur lagi. Siang aku tidur dengannya, malam kami tidur bertiga. Sekarang kami sudah kembali di Jakarta, dan tinggal di rumah orangtuaku. Kami masih tetap tidur bertiga. Bukan karena tidak ada kamar kosong, tapi karena ‘effort’ yang dikeluarkan untuk menyulap kamar yang kosong menjadi kamar tidur anak, memerlukan usaha yang sangat besar karena kamar itu penuh dengan barang.🙂

Aku masih menikmati tidur siang (juga malam) dengan anakku, dan juga merasa lebih beruntung (walau gak ada yang liat) daripada ibu-ibu lain yang terpaksa bekerja.  Wacana pisah kamar, akan laksanakan bila sudah akan ada adiknya anakku (kalo aku hamil), atau kalau Danen sudah minta kamar sendiri.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s